Angka-Angka yang Menunjukkan Urgensi Urban Farming di Indonesia

Ketika Kota Tumbuh, Dari Mana Pangan Akan Datang?

Urbanisasi bukan lagi sekadar perubahan demografi. Pertumbuhan kota ikut mengubah cara masyarakat mendapatkan pangan, menggunakan lahan, mengelola lingkungan, dan menghadapi perubahan iklim.

Data BPS yang dikutip dalam berbagai dokumen pemerintah menunjukkan bahwa 56,7% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan pada 2020, meningkat dari 49,8% pada 2010. Proyeksi BPS juga menunjukkan proporsinya dapat mencapai sekitar 66,6% pada 2035. Artinya, kebutuhan pangan akan semakin terkonsentrasi di kawasan perkotaan.

Di sinilah urban farming atau pertanian perkotaan mendapatkan relevansinya.

Urban farming bukan berarti kota harus berubah menjadi lahan pertanian besar. Konsep ini justru menawarkan cara memanfaatkan ruang terbatas—seperti halaman rumah, rooftop, lahan fasilitas umum, area komunitas, hingga ruang di sekitar perkantoran—untuk menghasilkan pangan sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekologis.

1. Lebih dari Separuh Penduduk Indonesia Sudah Tinggal di Kota

Angka 56,7% merupakan salah satu indikator paling kuat mengapa pertanian perkotaan perlu mendapatkan perhatian.

Ketika semakin banyak penduduk tinggal di kota, kebutuhan terhadap sayuran, buah, tanaman pangan, dan produk pertanian segar juga semakin besar. Pada saat yang sama, ruang untuk kegiatan pertanian konvensional cenderung mendapat tekanan akibat pembangunan perumahan, kawasan komersial, infrastruktur, dan fasilitas perkotaan.

Pemerintah juga memperkirakan tren urbanisasi akan terus berlanjut. Dalam dokumen Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal yang merujuk proyeksi BPS, penduduk perkotaan diperkirakan mencapai sekitar 63,4% pada 2030 dan 66,67% pada 2035.

Kondisi tersebut membuat kota tidak cukup hanya menjadi pusat konsumsi. Kota juga perlu memiliki sistem pangan yang lebih tangguh.

Urban farming dapat menjadi salah satu bagian dari solusi tersebut.

2. Kota Dunia Diproyeksikan Semakin Padat

Tren Indonesia sebenarnya merupakan bagian dari fenomena global.

FAO menyebut sekitar 55% populasi dunia saat ini tinggal di wilayah perkotaan dan proporsinya diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 68% pada 2050. Pertumbuhan tersebut membuat persoalan pangan, nutrisi, lingkungan, dan ketahanan kota semakin saling berkaitan.

Kota juga merupakan pusat konsumsi. Karena itu, sistem pangan perkotaan tidak bisa hanya melihat aktivitas produksi di pedesaan, tetapi perlu mempertimbangkan hubungan antara produsen, distributor, pasar, konsumen, limbah, air, energi, dan tata ruang.

FAO bahkan mencatat bahwa 79% dari seluruh pangan yang diproduksi ditujukan untuk konsumsi di kota.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kota berkelanjutan pada akhirnya juga merupakan pembahasan mengenai pangan.

3. Urban Farming Dapat Memperpendek Rantai Pasok

Salah satu keunggulan pertanian perkotaan adalah kedekatan antara lokasi produksi dan konsumen.

Sayuran yang ditanam di lingkungan perkotaan dapat memiliki jalur distribusi yang lebih pendek dibandingkan produk yang harus melewati rantai pasok panjang. Hal ini berpotensi membantu memperkuat akses terhadap pangan segar sekaligus mendukung pasar lokal.

FAO menjelaskan bahwa urban and peri-urban agriculture dapat membantu membangun ketahanan pasokan pangan kota karena produksi dilakukan di dalam atau sekitar kawasan perkotaan.

Namun, penting untuk tidak menganggap urban farming sebagai pengganti pertanian pedesaan. Keduanya justru harus saling melengkapi.

Pertanian perkotaan lebih tepat dipandang sebagai bagian dari city-region food system, yaitu sistem yang menghubungkan kota dengan wilayah peri-urban dan pedesaan di sekitarnya.

4. Urban Farming Tidak Hanya Berbicara tentang Pangan

Nilai urban farming tidak berhenti pada berapa kilogram sayuran yang berhasil dipanen.

Program yang dirancang dengan baik dapat memiliki beberapa manfaat sekaligus:

  • meningkatkan akses terhadap pangan segar;
  • memanfaatkan ruang terbatas secara produktif;
  • memperluas ruang hijau;
  • meningkatkan literasi pangan dan lingkungan;
  • menciptakan aktivitas ekonomi skala komunitas;
  • memperkuat interaksi sosial;
  • memberikan keterampilan baru kepada masyarakat;
  • mendukung agenda kota yang lebih berkelanjutan.

FAO menempatkan urban agriculture sebagai bagian dari upaya membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan, resilien, dan inklusif. Pertanian perkotaan juga dapat mendukung pekerjaan, pendapatan, serta ketahanan pangan masyarakat kota.

Karena itu, urban farming dapat menjadi titik temu antara ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

5. Tantangan Urban Farming di Indonesia Tidak Sedikit

Meski potensinya besar, urban farming bukan solusi instan.

Tantangan pertama adalah keterbatasan lahan. Harga dan kompetisi penggunaan lahan di kota membuat keberadaan lahan produktif menjadi semakin bernilai.

Tantangan kedua adalah air dan kualitas media tanam. Tidak semua lokasi perkotaan memiliki kondisi tanah yang cocok untuk produksi pangan. Pengelolaan air juga harus memperhatikan keamanan dan kualitasnya.

Tantangan ketiga adalah keterampilan masyarakat. Membuat kebun sederhana berbeda dengan membangun program urban farming yang produktif dan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Tantangan berikutnya adalah keberlanjutan program. Banyak inisiatif dapat berjalan dengan baik ketika mendapat dukungan awal, tetapi menghadapi masalah ketika pendanaan, pendampingan, atau pengelolaan mulai berkurang.

Karena itu, urban farming membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif: pemilihan lokasi, jenis tanaman, teknologi, pelatihan, pengelolaan, pemasaran, hingga evaluasi dampak.

6. Teknologi Membuka Peluang di Lahan Terbatas

Keterbatasan lahan tidak selalu berarti keterbatasan produksi.

Berbagai metode seperti hidroponik, vertical farming, container gardening, raised bed, dan rooftop gardening memungkinkan masyarakat memanfaatkan ruang yang sebelumnya tidak produktif.

FAO mencatat bahwa metode seperti hidroponik atau budidaya menggunakan media tertentu dapat digunakan pada ruang yang sangat terbatas untuk menghasilkan sayuran bernilai gizi.

Namun, pemilihan teknologi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat. Teknologi yang mahal belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi komunitas jika biaya operasional dan kemampuan pengelola tidak mendukung.

Prinsip sederhananya: teknologi harus membuat program lebih mudah dikelola, bukan justru menambah ketergantungan.

7. Mengapa Urban Farming Relevan untuk Program CSR?

Urban farming juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari CSR perusahaan.

Program CSR yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dapat menggunakan urban farming sebagai media untuk menciptakan manfaat yang lebih terukur. Perusahaan tidak hanya memberikan bantuan berupa sarana, tetapi juga dapat membantu membangun kapasitas masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, penyediaan fasilitas, hingga pengembangan model usaha.

Model seperti ini dapat menghubungkan kebutuhan perusahaan dengan kebutuhan masyarakat.

Misalnya, sebuah perusahaan dapat mendukung pembangunan kebun komunitas di wilayah sekitar operasionalnya. Masyarakat memperoleh ruang produktif dan keterampilan, sementara perusahaan dapat berkontribusi terhadap isu lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Untuk melihat bagaimana pendekatan pemberdayaan dapat menjadi bagian dari program CSR perusahaan, perusahaan dapat mempelajari berbagai peluang program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Yang terpenting, program CSR urban farming sebaiknya tidak berhenti pada seremoni penanaman. Keberhasilannya perlu dilihat dari indikator seperti tingkat partisipasi masyarakat, keberlangsungan kebun, jumlah penerima manfaat, hasil produksi, peningkatan keterampilan, dan dampak ekonomi maupun lingkungan.

8. Dari Kebun Kecil Menuju Sistem Kota yang Lebih Tangguh

Urban farming mungkin terlihat sederhana: beberapa pot, instalasi hidroponik, atau kebun komunitas.

Namun, jika dikembangkan dalam skala yang tepat dan terhubung dengan perencanaan kota, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar.

FAO menekankan bahwa sistem pangan perkotaan yang berkelanjutan perlu menghubungkan aspek pangan dengan pengelolaan air, limbah, energi, transportasi, kesehatan, iklim, tata ruang, dan ekonomi.

Artinya, kebun kota dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar.

Sisa organik dapat dikelola menjadi kompos. Ruang terbengkalai dapat menjadi area produktif. Masyarakat mendapatkan keterampilan. Anak-anak belajar mengenai pangan. Produk hasil kebun dapat dikonsumsi komunitas atau dipasarkan secara lokal.

Inilah alasan urban farming layak dipandang bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi sebagai salah satu pendekatan untuk membangun kota yang lebih resilien, inklusif, dan berkelanjutan.

FAQ Urban Farming di Indonesia

Apa itu urban farming?

Urban farming adalah aktivitas budidaya tanaman atau kegiatan pertanian yang dilakukan di dalam maupun sekitar kawasan perkotaan dengan memanfaatkan ruang dan sumber daya yang tersedia.

Mengapa urban farming penting di Indonesia?

Urban farming semakin relevan karena urbanisasi meningkatkan konsentrasi penduduk dan kebutuhan pangan di kota, sementara lahan produktif menghadapi tekanan pembangunan.

Apakah urban farming bisa dilakukan tanpa lahan luas?

Bisa. Metode seperti hidroponik, vertical gardening, container gardening, dan rooftop farming memungkinkan budidaya dilakukan pada ruang terbatas.

Apakah urban farming dapat menjadi program CSR?

Ya. Urban farming dapat dikembangkan sebagai program pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan aspek ketahanan pangan, lingkungan, edukasi, dan ekonomi lokal.

Apa tantangan terbesar urban farming?

Beberapa tantangannya meliputi keterbatasan lahan, kualitas air dan media tanam, keterampilan pengelola, biaya operasional, serta keberlanjutan program setelah dukungan awal berakhir.

Bagaimana perusahaan dapat memulai program urban farming?

Perusahaan sebaiknya memulai dengan pemetaan kebutuhan masyarakat, kondisi lokasi, potensi penerima manfaat, model budidaya, kebutuhan pendampingan, serta indikator keberhasilan. Pendekatan berbasis kebutuhan akan membuat program lebih relevan dan berkelanjutan.

Membangun Program Urban Farming yang Berdampak

Angka urbanisasi menunjukkan satu hal penting: masa depan ketahanan pangan Indonesia semakin terkait dengan bagaimana kota dirancang dan dikelola.

Dengan lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah tinggal di wilayah perkotaan dan proporsinya diproyeksikan terus meningkat, pendekatan terhadap pangan tidak dapat hanya mengandalkan pola lama. Urban farming dapat menjadi salah satu komponen untuk mendekatkan produksi pangan kepada masyarakat sekaligus menciptakan ruang pemberdayaan dan edukasi.

Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan program pemberdayaan berbasis lingkungan dan kebutuhan masyarakat, CSR perusahaan dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk dipertimbangkan.

PrasastiSelaras.com dapat menjadi referensi bagi perusahaan yang ingin mengeksplorasi pengembangan program CSR yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.

Jika perusahaan Anda sedang merancang program CSR bertema urban farming, ketahanan pangan, lingkungan, atau pemberdayaan masyarakat, saatnya mengubah ide menjadi program yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Pelajari peluang program CSR perusahaan dan mulai rancang inisiatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat komitmen keberlanjutan perusahaan.