Angka-Angka yang Menunjukkan Urgensi CSR Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keberlanjutan, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Dunia usaha semakin dituntut untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat, lingkungan, dan pemangku kepentingan. Tren ini terlihat dari meningkatnya komitmen perusahaan global terhadap agenda ESG dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurut studi UN Global Compact–Accenture 2025, sebanyak 88% CEO mengatakan bahwa alasan bisnis untuk menjalankan keberlanjutan semakin kuat dibandingkan lima tahun sebelumnya. Bahkan, 99% CEO yang disurvei berencana mempertahankan atau meningkatkan komitmen keberlanjutan mereka.

Di Indonesia, urgensi tersebut semakin nyata ketika melihat berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi masyarakat. Karena itu, CSR pemberdayaan masyarakat perlu dipandang bukan sekadar kegiatan donasi, melainkan sebagai investasi sosial yang membantu masyarakat meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan kualitas hidup.

Tren Global Menunjukkan CSR Semakin Strategis

Sustainability telah bergerak dari isu reputasi menjadi bagian dari strategi bisnis. Perusahaan mulai mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan ke dalam operasional, rantai pasok, investasi, serta hubungan dengan komunitas.

Momentum ini juga berkaitan dengan tantangan pencapaian SDGs. Data yang dirangkum UN Global Compact dari laporan SDG terbaru menunjukkan bahwa hanya sekitar 35% target SDGs yang dinilai berada di jalur yang benar atau menunjukkan kemajuan moderat. Hampir setengahnya mengalami sedikit atau tidak ada kemajuan, sementara 18% justru berada di bawah kondisi tahun 2015.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan organisasi internasional tidak dapat bekerja sendirian. Perusahaan memiliki sumber daya, teknologi, jaringan, serta kemampuan mobilisasi yang dapat digunakan untuk mempercepat perubahan sosial.

Di sinilah program CSR perusahaan memiliki posisi strategis. Program yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat dapat menjadi penghubung antara tujuan bisnis dan agenda pembangunan berkelanjutan.

23,36 Juta Penduduk Indonesia Masih Hidup dalam Kemiskinan

Salah satu indikator penting yang menunjukkan kebutuhan pemberdayaan masyarakat adalah kemiskinan.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2025, persentase penduduk miskin Indonesia mencapai 8,25%, atau sekitar 23,36 juta orang. Angka tersebut memang turun dibandingkan Maret 2025 dan September 2024. Namun, jumlahnya tetap menunjukkan bahwa jutaan masyarakat masih membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Tantangan juga terlihat dari kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada September 2025, tingkat kemiskinan perkotaan tercatat 6,60%, sedangkan kemiskinan perdesaan mencapai 10,72%.

Data tersebut memberikan pelajaran penting: bantuan jangka pendek saja belum tentu cukup.

Masyarakat membutuhkan akses terhadap keterampilan, peluang ekonomi, pendampingan usaha, pendidikan, kesehatan, serta penguatan kelembagaan lokal. Inilah ruang strategis bagi CSR pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan Lebih dari Sekadar Memberikan Bantuan

CSR yang bersifat karitatif tetap memiliki manfaat dalam kondisi tertentu, misalnya ketika masyarakat menghadapi bencana atau kebutuhan mendesak.

Namun, pemberdayaan memiliki pendekatan berbeda.

Tujuannya adalah membantu masyarakat memiliki kemampuan untuk menghasilkan perubahan secara lebih mandiri. Bentuknya dapat berupa:

  • pelatihan keterampilan kerja;
  • pengembangan UMKM;
  • pendampingan kelompok usaha;
  • peningkatan kapasitas petani dan nelayan;
  • pengembangan produk lokal;
  • pendidikan dan literasi;
  • program kesehatan masyarakat;
  • pengelolaan lingkungan berbasis komunitas;
  • penguatan kelembagaan desa;
  • pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi dari perubahan yang terjadi setelah program berjalan.

Misalnya, bukan hanya berapa banyak peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi berapa orang yang kemudian mampu meningkatkan pendapatan, mendapatkan pekerjaan, membangun usaha, atau menciptakan lapangan kerja baru.

Stunting Menunjukkan Tantangan Pembangunan Manusia

Urgensi pemberdayaan juga dapat dilihat dari isu kesehatan dan kualitas sumber daya manusia.

Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 14,2% pada 2029.

Penurunan tersebut merupakan perkembangan positif. Namun, angka 19,8% berarti persoalan gizi kronis masih menjadi tantangan besar.

Program sosial perusahaan dapat berkontribusi melalui pendekatan yang terintegrasi, misalnya edukasi gizi, peningkatan kapasitas kader, penguatan ekonomi keluarga, sanitasi, akses air bersih, hingga edukasi kesehatan ibu dan anak.

Pendekatan ini penting karena persoalan sosial sering kali saling berkaitan. Keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi akses pangan bergizi. Pendidikan memengaruhi pengetahuan kesehatan. Kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi kualitas hidup.

Karena itu, program CSR sebaiknya tidak melihat satu masalah secara terpisah.

Mengapa Perusahaan Perlu Menggunakan Pendekatan Berbasis Data?

Salah satu kelemahan program sosial adalah ketika kegiatan dibuat berdasarkan asumsi, bukan kebutuhan masyarakat.

Program yang terlihat bagus di atas kertas belum tentu memberikan dampak nyata.

Pendekatan berbasis data dapat dimulai dengan pemetaan sosial atau social mapping. Perusahaan perlu memahami:

  1. Siapa kelompok penerima manfaat?
  2. Apa masalah utama yang mereka hadapi?
  3. Apa potensi lokal yang dapat dikembangkan?
  4. Siapa pemangku kepentingan yang perlu dilibatkan?
  5. Apa indikator keberhasilan program?
  6. Bagaimana dampaknya diukur dalam jangka menengah dan panjang?

Dengan proses tersebut, program dapat dirancang lebih relevan dan memiliki indikator yang jelas.

Misalnya, apabila suatu desa memiliki banyak pelaku UMKM tetapi terkendala pemasaran, program tidak harus dimulai dari pemberian modal. Perusahaan dapat mengembangkan pelatihan pemasaran digital, penguatan branding, peningkatan kualitas kemasan, akses pasar, serta pendampingan bisnis.

CSR Perusahaan Perlu Mengarah pada Dampak Jangka Panjang

Pemberdayaan masyarakat membutuhkan waktu. Karena itu, program CSR idealnya memiliki roadmap yang jelas.

Tahap awal dapat berfokus pada pemetaan kebutuhan. Tahap berikutnya diarahkan pada peningkatan kapasitas. Setelah itu, masyarakat mulai didorong untuk menjalankan kegiatan secara mandiri.

Indikator yang dapat digunakan antara lain:

  • peningkatan pendapatan penerima manfaat;
  • jumlah usaha yang bertahan;
  • peningkatan keterampilan;
  • terbentuknya kelompok masyarakat;
  • peningkatan akses pendidikan atau kesehatan;
  • terciptanya lapangan kerja;
  • peningkatan kualitas lingkungan;
  • tingkat keberlanjutan program setelah pendanaan perusahaan berakhir.

Dengan demikian, perusahaan dapat menunjukkan bahwa investasi sosialnya menghasilkan perubahan yang terukur.

PrasastiSelaras.com dan Pentingnya Perencanaan Program

Bagi perusahaan yang ingin membangun program sosial secara lebih terarah, perencanaan menjadi tahap yang sangat penting. Program yang efektif perlu menghubungkan kebutuhan masyarakat, tujuan perusahaan, indikator dampak, serta strategi implementasi.

Informasi mengenai pendekatan dan layanan terkait CSR perusahaan dapat dipelajari melalui CSR perusahaan.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan melihat CSR bukan sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai bagian dari strategi menciptakan hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

PrasastiSelaras.com dapat menjadi salah satu referensi bagi perusahaan yang ingin memahami bagaimana program CSR dapat dirancang secara lebih terstruktur dan berorientasi pada pemberdayaan.

Dari Angka Menjadi Aksi Nyata

Angka kemiskinan, stunting, ketimpangan pembangunan, serta perkembangan agenda keberlanjutan global menunjukkan satu hal: kebutuhan terhadap program sosial yang berdampak masih sangat besar.

Pada saat yang sama, dunia bisnis memiliki peluang untuk berkontribusi lebih jauh.

CSR yang baik bukan hanya tentang seberapa besar dana yang dikeluarkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: perubahan apa yang terjadi setelah program tersebut dijalankan?

Karena itu, perusahaan perlu menggeser orientasi dari sekadar charity menuju pemberdayaan. Masyarakat bukan hanya penerima manfaat, tetapi mitra yang memiliki potensi, pengetahuan lokal, dan kemampuan untuk berkembang.

Pendekatan seperti inilah yang membuat CSR lebih relevan dengan agenda SDGs sekaligus memberikan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan komunitas.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan CSR pemberdayaan masyarakat?

CSR pemberdayaan masyarakat adalah program tanggung jawab sosial perusahaan yang bertujuan meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan seperti pendidikan, pelatihan, pengembangan ekonomi, kesehatan, dan penguatan kelembagaan.

Mengapa CSR pemberdayaan masyarakat penting di Indonesia?

Karena Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan sosial, termasuk kemiskinan dan kesenjangan akses terhadap peluang ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta sumber daya. BPS mencatat masih terdapat 23,36 juta penduduk miskin pada September 2025.

Apa perbedaan CSR dan pemberdayaan masyarakat?

CSR merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan secara luas, sedangkan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu pendekatan dalam CSR yang berfokus pada peningkatan kemampuan dan kemandirian masyarakat.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan program CSR?

Keberhasilan dapat diukur melalui indikator yang sesuai dengan tujuan program, seperti peningkatan pendapatan, keterampilan, akses layanan, jumlah usaha yang berkembang, kualitas lingkungan, atau keberlanjutan kelompok penerima manfaat.

Apakah CSR harus selalu berupa pemberian bantuan?

Tidak. CSR dapat berupa pelatihan, pendampingan, pengembangan UMKM, pendidikan, kesehatan, pengelolaan lingkungan, penguatan kapasitas komunitas, hingga pengembangan ekonomi lokal.

Wujudkan Program yang Memberikan Dampak

Perusahaan memiliki kesempatan untuk mengubah angka-angka tantangan sosial menjadi aksi yang menghasilkan perubahan nyata. Jika organisasi Anda sedang merancang, mengembangkan, atau mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat, pelajari lebih lanjut layanan CSR perusahaan melalui CSR perusahaan dan temukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta komunitas penerima manfaat.

Untuk mendapatkan program yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan, kunjungi PrasastiSelaras.com dan mulai diskusikan kebutuhan program CSR perusahaan Anda.

Berapa Besar Kontribusi CSR Pendidikan terhadap Target Net Zero?

Mengapa CSR Pendidikan Relevan dengan Target Net Zero?

Target Net Zero Emission (NZE) sering kali dikaitkan langsung dengan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, energi terbarukan, efisiensi energi, elektrifikasi, dan teknologi rendah karbon.

Namun, ada satu faktor yang tidak kalah penting: kesiapan manusia.

Transisi menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi baru. Karena itu, program pendidikan yang dirancang perusahaan, khususnya perusahaan tambang, dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang.

Indonesia sendiri menargetkan Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Pemerintah juga terus mendorong transformasi sektor energi untuk mendukung target tersebut.

Dalam konteks ini, CSR perusahaan di bidang pendidikan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kegiatan sosial. Jika dirancang secara strategis, program tersebut dapat menjadi investasi untuk membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi transisi ekonomi dan energi.

Tidak Ada Angka Tunggal untuk Mengukur Kontribusi CSR Pendidikan terhadap Net Zero

Pertanyaan “berapa besar kontribusi CSR pendidikan terhadap Net Zero?” perlu dijawab secara hati-hati.

Berbeda dengan pemasangan panel surya yang dapat dihitung melalui jumlah energi yang dihasilkan atau proyek efisiensi yang dapat dikonversi menjadi pengurangan emisi, dampak CSR pendidikan tidak dapat secara langsung diterjemahkan menjadi ton CO₂ yang dihindari tanpa metodologi khusus.

Kontribusinya lebih bersifat enabling impact atau dampak pendukung.

Contohnya, perusahaan memberikan beasiswa kepada siswa di sekitar wilayah tambang. Program tersebut tidak secara langsung mengurangi emisi. Namun, dalam jangka panjang, penerima manfaat dapat memperoleh keterampilan di bidang energi terbarukan, teknologi, lingkungan, pengelolaan sumber daya, atau digitalisasi.

Ketika keterampilan tersebut digunakan dalam dunia kerja, masyarakat lokal memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam ekonomi rendah karbon.

Dengan kata lain:

CSR pendidikan → peningkatan kapasitas manusia → keterampilan hijau → kesiapan tenaga kerja → percepatan transisi rendah karbon.

Mengapa Perusahaan Tambang Perlu Memperhatikan Aspek Ini?

Sektor pertambangan memiliki posisi strategis sekaligus menghadapi tekanan besar dalam penerapan ESG.

Kementerian ESDM menegaskan bahwa penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor pertambangan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi bagian penting dari keberlanjutan usaha dan daya saing industri.

Di sisi lain, studi tahun 2026 mengenai perusahaan tambang Indonesia menunjukkan bahwa perusahaan mulai mengintegrasikan aksi iklim ke dalam CSR. Namun, masih terdapat tantangan berupa ketidakseragaman indikator, keterbatasan pengukuran dampak, serta kebutuhan untuk memperkuat akuntabilitas dan keterlibatan pemangku kepentingan.

Artinya, CSR pendidikan dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat pilar Social dalam ESG sekaligus mendukung agenda iklim secara tidak langsung.

Bentuk CSR Pendidikan yang Mendukung Transisi Rendah Karbon

Program pendidikan tidak harus berhenti pada pemberian beasiswa.

Perusahaan tambang dapat mengembangkan program yang memiliki hubungan lebih jelas dengan kebutuhan masa depan.

1. Beasiswa untuk Bidang STEM

Beasiswa untuk bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika dapat diarahkan kepada siswa berprestasi dari wilayah sekitar operasional.

Bidang seperti teknik energi, teknik lingkungan, teknologi informasi, dan rekayasa dapat menjadi bagian dari pipeline talenta untuk mendukung transformasi industri.

2. Green Skills untuk Generasi Muda

Pelatihan dapat mencakup:

  • energi terbarukan;
  • efisiensi energi;
  • pengelolaan limbah;
  • konservasi lingkungan;
  • teknologi digital;
  • pengukuran emisi;
  • pertanian berkelanjutan;
  • ekonomi sirkular.

Program seperti ini membuat CSR lebih relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.

3. Pendidikan Lingkungan di Sekolah

Perusahaan dapat bekerja sama dengan sekolah untuk memperkenalkan konsep perubahan iklim, konservasi, pengelolaan sampah, energi bersih, dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.

Dampaknya mungkin tidak terlihat dalam laporan emisi tahunan perusahaan, tetapi dapat membangun perubahan perilaku dalam jangka panjang.

4. Pelatihan Guru

Guru merupakan multiplier effect yang penting.

Satu program pelatihan guru dapat diteruskan kepada banyak siswa selama beberapa tahun. Karena itu, perusahaan dapat mengukur dampak berdasarkan jumlah guru yang dilatih, siswa yang dijangkau, materi yang digunakan, hingga perubahan kompetensi peserta.

Bagaimana Dampaknya Bisa Diukur?

Agar CSR pendidikan tidak menjadi sekadar aktivitas seremonial, perusahaan perlu menggunakan indikator yang jelas.

Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:

Indikator Contoh Pengukuran
Akses pendidikan Jumlah penerima beasiswa
Green skills Jumlah peserta pelatihan
Kompetensi Persentase peningkatan skor sebelum dan sesudah pelatihan
Ketenagakerjaan Persentase lulusan yang bekerja
Kewirausahaan Jumlah usaha hijau yang terbentuk
Literasi iklim Jumlah siswa/guru yang mengikuti program
Efek jangka panjang Lulusan yang masuk sektor energi/lingkungan

Pengukuran tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan indikator ESG dan SDGs yang relevan.

Studi mengenai CSR industri pertambangan di Paser, Kalimantan Timur, misalnya, menunjukkan hubungan antara program CSR perusahaan tambang dan dukungan terhadap pendidikan berkualitas dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

CSR Pendidikan dan Net Zero Harus Berjalan Bersama

Penting untuk tidak menempatkan CSR pendidikan sebagai pengganti pengurangan emisi operasional.

Keduanya memiliki fungsi berbeda.

Dekarbonisasi operasional berfokus pada pengurangan emisi yang dihasilkan perusahaan.

Sementara itu, CSR pendidikan berfokus pada pembangunan kapasitas manusia dan masyarakat agar mampu beradaptasi serta mengambil bagian dalam perubahan menuju ekonomi berkelanjutan.

Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah mengintegrasikan keduanya.

Perusahaan dapat menjalankan efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, reklamasi, konservasi, dan pengurangan emisi sekaligus membangun program pendidikan yang mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi perubahan tersebut.

Contoh sederhana: ketika perusahaan mulai menggunakan teknologi energi rendah karbon, program pendidikan dapat diarahkan untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal agar memahami teknologi dan kompetensi yang dibutuhkan.

Inilah yang membuat CSR perusahaan menjadi lebih strategis.

Ada Peluang Besar bagi Perusahaan Tambang

Data terbaru menunjukkan bahwa aspek sosial masih menjadi salah satu tantangan penting dalam penerapan ESG sektor mineral kritis di Indonesia.

Analisis yang diluncurkan pemerintah bersama Dewan Ekonomi Nasional dan WRI Indonesia pada Juni 2026 menemukan kesesuaian regulasi Indonesia dengan tiga standar ESG internasional masih berada di kisaran 39–51%, sementara hingga 96% kesenjangan regulasi yang teridentifikasi berada pada aspek sosial.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penguatan dimensi sosial bukan sekadar pelengkap.

Bagi perusahaan tambang, program pendidikan yang terukur dapat menjadi salah satu cara memperkuat hubungan dengan masyarakat, meningkatkan kapasitas lokal, dan membangun fondasi sosial untuk transisi ekonomi jangka panjang.

Bagaimana Strategi CSR Pendidikan yang Lebih Efektif?

Perusahaan dapat menggunakan pendekatan lima tahap:

  1. Pemetaan kebutuhan
    Identifikasi kebutuhan pendidikan masyarakat sekitar wilayah operasional.
  2. Hubungkan dengan strategi bisnis
    Tentukan kompetensi yang akan dibutuhkan dalam 5–10 tahun mendatang.
  3. Masukkan unsur keberlanjutan
    Integrasikan green skills, literasi iklim, teknologi, dan konservasi.
  4. Tentukan indikator dampak
    Jangan hanya mengukur jumlah peserta. Ukur perubahan kompetensi dan manfaat jangka panjang.
  5. Publikasikan secara transparan
    Masukkan capaian, metode pengukuran, tantangan, dan hasil program dalam laporan keberlanjutan.

Pendekatan tersebut membuat CSR perusahaan bergerak dari sekadar aktivitas filantropi menuju program yang memiliki tujuan, indikator, dan dampak yang dapat dievaluasi.

Peran Mitra dalam Membangun Program CSR Pendidikan

Tidak semua perusahaan memiliki sumber daya internal untuk merancang, menjalankan, dan mengevaluasi program pendidikan secara komprehensif.

Karena itu, perusahaan dapat bekerja sama dengan konsultan atau mitra implementasi yang memahami kebutuhan masyarakat, prinsip ESG, pengukuran dampak, serta karakteristik wilayah pertambangan.

PrasastiSelaras.com dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut dengan pendekatan CSR yang lebih terarah dan berorientasi pada dampak.

Program yang baik bukan hanya menjawab pertanyaan “berapa banyak bantuan yang diberikan?”, tetapi juga “perubahan apa yang terjadi setelah program berjalan?”

Untuk perusahaan tambang, pertanyaan kedua jauh lebih penting.

Masa Depan CSR Bukan Sekadar Besaran Anggaran

Kontribusi CSR pendidikan terhadap Net Zero memang tidak tepat dinilai hanya dengan mengonversi anggaran menjadi ton CO₂.

Nilainya terletak pada kemampuan program tersebut untuk membangun human capital, green skills, literasi lingkungan, kesiapan tenaga kerja, dan ketahanan masyarakat.

Pada saat yang sama, perusahaan tetap perlu melakukan pengurangan emisi secara langsung melalui strategi dekarbonisasi.

Dengan demikian, CSR pendidikan dapat menjadi salah satu fondasi sosial yang membantu memastikan transisi menuju Net Zero tidak hanya rendah karbon, tetapi juga inklusif.

Perusahaan tambang yang mulai membangun kapasitas masyarakat sejak sekarang akan memiliki modal sosial yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan teknologi, regulasi, kebutuhan tenaga kerja, dan tuntutan ESG di masa depan.

Jika perusahaan Anda sedang merancang program pendidikan yang terukur, relevan dengan ESG, dan memiliki dampak sosial jangka panjang, CSR perusahaan dapat dirancang sebagai investasi strategis untuk masyarakat sekaligus mendukung agenda keberlanjutan perusahaan. Hubungi PrasastiSelaras.com untuk mendiskusikan kebutuhan program dan strategi implementasi CSR yang sesuai dengan karakter perusahaan dan wilayah operasional.

FAQ

Apakah CSR pendidikan dapat mengurangi emisi karbon secara langsung?

Tidak secara langsung. CSR pendidikan lebih tepat dikategorikan sebagai kontribusi pendukung yang meningkatkan kapasitas manusia dan kesiapan masyarakat terhadap transisi rendah karbon.

Mengapa CSR pendidikan penting bagi perusahaan tambang?

Karena perusahaan tambang tidak hanya menghadapi tantangan lingkungan, tetapi juga perlu membangun hubungan sosial, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mempersiapkan tenaga kerja untuk perubahan industri.

Apa contoh program CSR pendidikan yang mendukung Net Zero?

Contohnya beasiswa bidang STEM, pelatihan green skills, pendidikan lingkungan, pelatihan guru, program energi terbarukan di sekolah, dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan ekonomi hijau.

Bagaimana cara mengukur dampak CSR pendidikan?

Perusahaan dapat mengukur jumlah penerima manfaat, peningkatan kompetensi, tingkat kelulusan, penyerapan kerja, jumlah peserta yang memperoleh green skills, serta dampak jangka panjang terhadap masyarakat.

Apakah CSR pendidikan termasuk bagian dari ESG?

Ya. CSR pendidikan terutama berkaitan dengan aspek Social dalam ESG dan dapat mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk pendidikan berkualitas dan aksi iklim.

Apakah CSR pendidikan bisa dimasukkan dalam sustainability report?

Bisa. Perusahaan dapat melaporkan tujuan program, penerima manfaat, indikator kinerja, hasil, metode pengukuran, serta keterkaitannya dengan ESG dan SDGs.